penyebab caper

Penyebab Caper pada Si Kecil dan Cara Mengatasinya

  • October 24, 2020

Banyak orang tua berpikir salah satu penyebab caper pada si kecil terkait dengan gangguan psikologis seperti ADHD. Padahal perilaku caper pada anak tidak selalu disebabkan oleh gangguan psikologis atau medis lainnya.

Dalam rentang usia 3 hingga 7 tahun, anak belum bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginannya. Hal inilah yang mendorong mereka menjadi caper dan itu adalah normal.

Penyebab anak cari perhatian

Untuk memahami si kecil, ada baiknya mengetahui anak bersikap demikian. Ada banyak penyebab caper pada anak diantaranya:

  • Merasa kesepian atau tersisihkan dengan saudaranya yang lain
  • Merasa diabaikan karena orang tua sibuk bekerja
  • Tidak mendapatkan cukup perhatian dari orang tua
  • Tidak mendapatkan cukup perhatian di sekolah atau luar lingkungannya
  • Tidak memiliki teman di sekolah atau sulit berteman
  • Pengalaman atau trauma masa lalu

Jenis perhatian pada anak

Salah satu tujuan anak-anak mencari perhatian adalah meminta persetujuan. Jenis perilaku caper yang berbeda menghasilkan respon yang berbeda pula pada orang tua. Ada tiga jenis perhatian yang perlu diperhatikan:

  • Perhatian positif

Ketika anak melakukan hal positif, seperti merapihkan mainan setelah digunakan atau meletakkan piringnya sendiri di tempat cuci piring, maka jangan sungkan untuk beri dia pujian.

Memberi respon positif akan meningkatkan perilaku yang baik pada anak. Inilah yang dinamakan perhatian positif.

  • Perhatian negatif

Ketika anak berperilaku buruk, atau bandel, orang tua akan kehilangan kesabaran dan memarahi mereka. Tanpa Anda sadari, Anda telah memberi perhatian pada mereka, walau Anda merasa menghukumnya.

Ketika Anda merespon terhadap perilaku negatif mereka, Anda seakan mengajari dengan cara yang buruklah mereka dapat mengendalikan Anda. Anak-anak akan senang karena berpikir hanya dengan cara itu mereka bisa mendapat perhatian orang lain.

Hal ini akan menciptakan lingkaran setan. Anak berperilaku buruk, Anda memberi perhatian, dan perilaku buruk anak akan semakin menjadi-jadi.

  • Tidak ada perhatian

Jenis perhatian ini adalah ketika Anda tidak memuji perilaku positif yang diperlihatkan anak. Mungkin dalam hati Anda bersyukur anak tidak bertengkar satu sama lain, namun mereka tidak mengetahui bagaimana perasaan Anda.

Mengatasi anak yang suka mencari perhatian

Untuk mengendalikan anak yang suka cari perhatian dan mendukung perubahan positif pada mereka, ada beberapa anjuran dan larangan yang sebaiknya dicoba:

  • Bersikap empati

Empati berarti Anda memahami bahwa perilaku yang si kecil tampilkan mungkin berasal dari ketidak dewasaan perkembangan. Mungkin agak sulit dilakukan, terutama ketika mereka sedang bersikap menjengkelkan.

Ketika Anda melihat perilaku caper anak dari kacamata yang berbeda, Anda bisa memahami apa yang mereka mampu dan tidak mampu tangani, dan Anda bisa merespon lebih tepat.

  • Berikan lebih banyak perhatian positif

Berikan anak perhatian yang cukup dengan terlibat dalam kegiatannya, bukan memenuhi semua permintaa anak. Anda bisa menemaninya bermain, bercengkrama sepulang sekolah, atau membacakan cerita sebelum tidur. Lakukanlah kegiatan ini secara konsisten.

  • Abaikan anak saat diperlukan

Sesekali abaikan perilaku anak ketika dia menjerit, berteriak, atau bahkan melempar barang. Jelaskan padanya bahwa Anda tidak akan mendengarkannya hingga dia benar-benar tenang.

  • Jelaskan pada anak mengenai kondisi darurat

Terkadang anak menginterupsi ketika Anda dalam keadaan darurat, misalnya panci yang mendidih. Beri penjelasan kepada mereka mana keadaan yang benar-benar membutuhkan perhatian Anda, dan mana keadaan yang bisa ditunda.

  • Tetapkan aturan pada anak

Buatlah daftar aturan beserta konsekuensi yang didapat bila melanggar. Anda bisa menerapkan sistem token ekonomi.

Misalnya, Anak memiliki 50 bintang dan diberi misi mengumpulkan hingga 100 bintang. Setiap anak berteriak atau menunjukkan perilaku buruk, 5 bintang akan dikurangi. Setiap anak menunjukkan perilaku positif, 5 bintang akan ditambahkan. Beri pujian atau hadiah setiap ia berhasil menyelesaikan misinya.

Ketika Anda telah menetapkan daftar peraturan, konsistenlah dalam pemberian konsekuensi agar anak tidak bingung.

Adapun beberapa hal yang tidak boleh dilakukan antara lain:

  • Meneriaki anak, terutama ketika Anda merasa lelah dan penat. Beri mereka perhatian bila Anda lelah lalu jauhkan diri hingga Anda benar-benar bisa tenang menghadapi si kecil
  • Membuat anak merasa bersalah atas perilaku mereka. Jangan timpakan mereka beban emosional bila Anda merasa tertekan atas rengekan mereka. 
  • Menganggap ada yang salah dengan anak, seperti mengaitkan penyebab caper pada anak dengan ADHD atau gangguan klinis lainnya. Namun, jika Anda khawatir, Anda bisa konsultasikan dengan dokter.
  • Menempatkan diri dibawah anak dengan mengikuti semua permintaannya. Terkadang ada hal-hal yang tidak bisa dituruti. Jangan merasa bersalah atas hal tersebut.

Catatan

Mengetahui penyebab caper pada anak tak sesulit mengatasi anak yang suka cari perhatian. Bila Anda tetap merasa kesulitan mengatasi dan mengontrol perilaku si kecil, diskusikanlah dengan konselor atau psikolog anak untuk hasil yang terbaik.

Gangguan Kecemasan Sosial, Kenali Penyebab dan Gejalanya

  • October 14, 2020

Saat berinteraksi dengan orang lain, adalah hal wajah untuk merasa cemas atau takut. Akan tetapi, jika rasa takut dan cemas dialami secara berlebihan dan terus menerus, tentu bukan hal normal lagi. Kondisi seperti ini bisa jadi pertanda bahwa Anda mengalami gangguan kecemasan sosial.

Gangguan kecemasan sosial merupakan gangguan yang membuat seseorang merasa cemas, takut, atau pun merasa malu terhadap interaksi sehari-hari. Biasanya penderita gangguan kecemasan sosial ini akan merasa stres dan cenderung menghindari orang lain.

Hal-hal yang yang ditakutkan pun sebenarnya merupakan interaksi sosial yang normal dilakukan. Misalnya ketika makan di depan orang, berjabat tangan, menatap mata orang lain, dan interaksi sosial umum lainnya.

Rasa cemas yang dialaminya pun tergolong intens sehingga memengaruhi fisiknya seperti berkeringat berlebihan, jantung berdetak cepat, dan lainnya.

Penyebab Seseorang Mengalami Gangguan Kecemasan Sosial

Gangguan kecemasan sosial ini belum diketahui pasti apa penyebabnya. Kondisi ini bisa saja dipicu situas yang baru atau belum pernah dilakukan sebelumnya. Kondisi fobia sosial ini juga terkait pada beberapa faktor seperti:

  • Struktur Otak

Hal ini dikarenakan bagian otak untuk mengendalikan respon rasa takut (amigdala) terlalu aktif merespon rasa takut yang dialami.

  • Faktor Lingkungan

Penderita pernah mengalami intimidasi atau pelecehan dari orang lain, adanya kejadian yang membuat seseorang merasa dipermalukan di situasi sosial, orangtua yang terlalu mengontrol anak, hingga orang terdekat atau di lingkungan penderita memang terlalu pencemas.

  • Faktor Genetik

Gangguan kecemasan sosial ini bisa juga merupakan turunan dari keluarga. Anak yang pemalu juga cenderung akan lebih cemas secara sosial.

Ciri atau Gejala Seseorang Mengalami Gangguan Kecemasan Sosial

Individu yang mengalami fobia sosia ini biasanya menunjukkan gejala atau ciri-ciri. Berikut gejala-gejalanya:

  • Situasi-situasi sosial hampir selalu memicu rasa takut dan rasa cemas pada individu. Biasanya pada anak-anak, kecemasan ini diekspresikan dalam bentuk berupa tangisan, menciutkan bibir, tidak sanggup berbicara, atau bisa juga menggenggam erat orang yang dikenalnya pada situasi sosial tertentu.
  • Individu menyadari bahwa ketakutan yang dirasakannya berlebihan dan bahkan tidak masuk akan. Tentu saja pada anak-anak kriteria ini tidak atau belum bisa terlihat.
  • Seseorang merasa takut individu akan berperilaku atau memperlihatkan rasa kecemasannya yang mungkin saja dievaluasi secara negatif oleh orang lain.
  • Rasa kecemasan dan ketakutan yang jelas terhadap situasi sosial yang menempatkan seseorang di osisi yang bisa dikritik oleh orang lain. Kondisi ini pada anak-anak bisa terlihat ketika mereka bersama teman sebayanya.
  • Kecemasan ataupun rasa ketakutan tersebut dirasakan terus menerus selama enam bulan atau lebih
  • Rasa cemas, takut, dan penghindaran ini akan menyebabkan adanya gangguan pada berbagai aspek sosial kehidupan penderitanya seperti pekerjaan, kehidupan sehari-hari dan aspek-aspek lainnya
  • Pada konteks sosial budaya, ketakutran dan kecemasan itu tidak sesuai dengan ancaman nyata yang terjadi di situasi sosial
  • Rasa cemas dan ketakutan akibat gangguan kecemasan sosial ini tidak berhubungan dengan kondisi medis lainnya
  • Rasa takut dan kecemasan ini bukanlah merupakan efek dari zat-zat atau kondisi medis lainnya
  • Biasanya situasi-situasi sosial dihindari dengan kecemasan dan rasa takut yang intens
  • Rasa cemas, ketakutan, dan penghindaran tidak bisa dijelaskan oleh gejala dari gangguan mental lainnya.

Selain kriteria yang disebutkan di atas, ada juga gejala fisik yang terlihat pada penderitanya, seperti gemetaran, merasa mual atau mengalami gangguan perut, pipi memerah, detak jantung menjadi cepat, berkeringat, sulit bernapas, pusing, hingga pikiran menjadi kosong.

Gangguan kecemasan sosial ini memang tidak bisa dicegah. Jika mengalami gejala-gejala di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan mental. Dampak gangguan kecemasan juga bisa diturunkan dengan melakukan relaksasi, mencatat peristiwa penting yang membuat Anda merasa cemas di jurnal, dan mendiskusikannya dengan dokter.