Cara Mendidik Anak 4 Tahun untuk Memicu Kognitifnya

  • October 27, 2020

Anak usia 4 tahun cenderung lebih aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Pada masa-masa ini, setiap hari mungkin akan menjadi suatu tantangan bagi Anda sebagai orang tuanya. Dalam periode ini, Anda harus memiliki strategi atau cara mendidik anak agar memicu perkembangan kognitifnya. Maksimalkan fase perkembangan anak ini agar menjadikannya pribadi yang cerdas dan juga mandiri.

Cara mendidik yang Anda berikan di usia dini akan sangat berpengaruh dengan kehidupan si anak kelak ketika beranjak remaja dan juga dewasa. Jadi pastikan Anda mendidik buah hati Anda dengan cara yang tepat. Berikut cara mendidik anak usia 4 tahun untuk memaksimalkan perkembangan kognitifnya:

  • Membatasi bermain gadget

Zaman sekarang teknologi semakin canggih, bahkan anak-anak bisa memainkan gadget di usianya yang masih belia tanpa perlu diajari. Masalahnya, banyak orang tua yang memberi gadget untuk mengatasi anak yang begitu aktif dan rewel.

Sebaiknya hentikan kebiasaan itu, karena memberi gadget pada anak hanya membuatnya malas. Sesekali tak ada salahnya meminjamkan gadget, tetapi harus dibatasi dengan durasi yang pendek supaya dia tidak terlalu ketergantungan pada gadget.

  • Mebelikan mainan yang edukatif

Anak usia 4 tahun tentunya masih menyukai hal-hal yang berbau dengan dunia mainan. Wajar jika mereka seperti itu, karena itu dunianya. Tidak ada salahnya Anda membelikan anak Anda mainan, tetapi jika Anda menginginkan anak Anda menjadi anak yang cerdas. Anda bisa membelikannya mainan edukatif yang bisa mengasah kemampuan otaknya seperti puzzle atau mainan sejenisnya.

  • Mengajarkan bahasa yang baik

Cara mendidik anak yang paling penting dalam tahap ini adalah mengajarinya berbahasa dengan baik. Hal ini dikarenakan pada usia 4 tahun, si kecil akan cenderung belajar banyak hal, termasuk bahasa. Tugas Anda sebagai orang tua adalah mengajarinya perkataan yang baik dan benar, agar kelak ketika ia dewasa, anak-anak akan memiliki tutur bahasa dan tata bicara yang baik.

  • Mengajarinya menggambar

Anda juga bisa mengajari si kecil menggambar, hal ini juga termasuk ke dalam salah satu cara mendidik anak usia 4 tahun agar perkembangan kognitifnya optimal. Ketika menggambar, pastinya dia juga akan menceritakan kepada Anda hal apa saja yang tengah dia gambar.

Dengan demikian, dia akan terdorong untuk mau berkomunikasi dan hal itu akan membantu si anak untuk berbicara lebih lancar. Menggambar juga berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan dirinya sekaligus mengasah imajinasinya.

  • Mengajarkan untuk belajar musik

Menurut beberapa penelitian di Amerika, anak yang mengikuti les musik atau belajar musik memiliki kemampuan kognitif yang lebih daripada anak yang tidak. Oleh karena itu jika ingin anak Anda cerdas, Anda bisa memberinya les musik.

Namun, perlu diingat. Yang terpenting adalah jangan pernah memaksanya, tanyakan saja apa musik yang ingin dia pelajari. Dengan begitu dia tidak akan merasa tertekan dan merasa senang menjalankannya.

  • Biarkan anak bermain bersama teman sebayanya

Biarkan anak Anda untuk bermain bersama teman sebayanya. Biarkan dia bermain dengan teman sekolah atau tetangganya yang usianya sama dengannya. Dengan begitu si kecil akan berlatih bersosialisasi dengan teman sebayanya. Ini juga bisa menjadi cara agar anak pandai berbicara dan sosialisasi.

  • Jangan memarahi anak ketika ia gagal dalam melakukan sesuatu

Banyak orang tua yang akan kecewa dan memarahi anak mereka ketika gagal mencapai sesuatu. Jika Anda ingin anak menjadi cerdas, ketika mereka gagal melakukan sesuatu jangan marahi dia, tetapi beri dia pengertian dan beri dia semangat. Dengan begitu dia akan menjadi semangat untuk mencoba hal-hal lain karena dia sadar orang tuanya selalu mendukungnya.

  • Biasakan bersikap terbuka dengan anak

Anak-anak senang bercerita, oleh karena itu orangtua juga harus mengusahakan hal yang sama. Sering-seringlah berkomunikasi dengan anak, bisa dimulai dengan menanyakan kepada anak tentang kegiatannya dalam sehari.

Dengan komunikasi yang lancar kelak anak akan mudah terbuka kepada orang tua tentang segala hal yang terjadi dalam hidupnya, bahkan sampai dia dewasa nanti.

***

Cara mendidik anak usia 4 tahun tentunya berbeda dengan cara mendidik anak pada usia-usia lainnya, karena tingkat pemahaman anak sudah meningkat lebih tinggi. Anak pada umur 4 tahun ini sudah lebih pintar berkomunikasi sehingga lebih mudah diajak bicara dan mengerti kalimat yang lebih panjang. Sesuaikanlah bahasa yang digunakan terhadap anak 4 tahun agar semua hal yang penting dapat tersampaikan dengan baik kepada anak.

Inner Child Orang Tua Pengaruhi Pola Asuh Anaknya

  • August 19, 2020

pola asuh orang tua pengaruhi inner child

Dunia psikologi mengenal istilah inner child. Ia dapat dijelaskan sebagai sesuatu yang ada di dalam diri seseorang sebagai hasil dari pengalaman masa kecilnya. Misalnya, seorang anak laki-laki yang begitu sayang dan peduli dengan ibunya pada saat masih kecil cenderung akan memilih pasangan seperti kepribadian sang ibu. Nantinya, hal ini juga akan berpengaruh pada caranya mengasuh anak.

Berkaitan dengan itu, contoh lain yang mengejawantahkan bahwa inner child di dalam diri seseorang akan terbawa saat ia memiliki anak adalah; anak yang kerap mendapat hukuman dari orang tuanya akan melakukan hal yang sama kelak kepada anaknya. 

Ini bisa menjadi masalah jika orang tua tidak sadar dan tidak dapat melihat realita yang ada bahwa hal tersebut akan berdampak buruk bagi pertumbuhan sang anak. Pasalnya, tiap orang berbeda. Mungkin jika Anda dapat menerima perlakuan itu, bukan berarti anak Anda kelak bisa setangguh Anda dalam menghadapi hari-hari penuh tekanan.

Jika Anda tengah kebingungan dan berupaya tidak melanjutkan estafet pola asuh yang menurut Anda kurang baik tersebut, berikut beberapa model atau jenis pola asuh yang umum di dunia ini:

1. Pola Asuh Demokratis

Orang tua berusaha tetap responsif terhadap anak dan mau mendengarkan setiap pertanyaan si buah hati. Harapan besar pada anak sebanding dengan kehangatan dan dukungan yang diberikan. 

Penerapan pola asuh ini berfokus pada memberikan kebebasan pas anak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, meski tetap memberikan batasan dan mengendalikan tindakan mereka. Tujuan dari pola asuh ini adalah anak akan tumbuh mandiri, bisa tegas terhadap diri sendiri, memiliki kemampuan mengendalikan diri dan intropeksi, mampu bekerja sama dan mudah bergaul serta ramah dengan orang lain. 

2. Pola Asuh Permisif

Orang tua yang menerapkan pola asuh ini dikenal sebagai orang tua yang gemar memanjakan dan memiliki sedikit tuntutan atau harapan untuk si buah hati. Orang tua tidak mengendalikan perilaku sang anak, meski lebih responsif pada anak dibandingkan pola asuh lainnya. 

Pola asuh yang didapat lantaran inner child orang tua pemanja ini cenderung lebih modern, toleran, dan menghindari konfrontasi. Pola asuh ini memiliki amat berisiko lantaran hasil dan tujuannya amat bergantung dengan ke mana jalan yang dipilih anak Anda kelak.

3. Pola Asuh Otoriter

Pola asuh ini lahir dari inner child orang tua yang selalu dikungkung oleh aturan ketat yang ditetapkan kepada mereka. Kegagalan mengikuti aturan umumnya akan berujung pada hukuman. Orang tua akan membatasi perilaku anak, sekaligus kerap menghukum atas nama disiplin.

Anak yang diasuh dengan pola ini akan menjadi pribadi yang selalu patuh dan cakap. Namun, meski cakap, anak cenderung menjadi pribadi yang tidak bahagia, tak memiliki kemampuan sosial, dan memiliki harga diri yang rendah.

4. Pola Asuh Penelantar

Dalam pola asuh ini, orang tua sama sekali tidak terlibat dengan apa pun yang terkait dengan anak. Orang tua tidak menuntut, tak responsif, dan minim komunikasi. Kebanyakan, orang tua yang menerapkan ini tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar anak. 

Inner child ini kebanyakan datang dari orang tua yang terlampau sibuk dengan urusan di luar rumah. Mereka hanya akan memastikan bahwa anak mendapatkan asupan makan dan minum yang tepat, pulang ke rumah dengan aman, dan hal-hal mendasar lainnya. 

Dengan pola asuh seperti ini, anak cenderung tak memiliki kontrol diri di kemudian hari. Pola asuh ini juga menjadikan anak menjadi pribadi dengan harga diri dan kompetensi yang rendah.

***

Dalam kasus ini, seseorang harus dapat mengenali potensi inner child yang ada di dalam diri mereka sendiri. Jika inner child Anda mempunyai dampak positif, Anda dapat menerapkannya terhadap pola asuh anak Anda di kemudian hari. Tetapi jika inner child Anda akan berdampak negatif, maka Anda harus mencari cara alternatif agar tidak melanjutkan tongkat estafet dari apa yang disebut-sebut tidak baik tersebut.

Penyebab dan Gejala Stress pada Anak

  • February 7, 2020

Gejala stress yang dialami anak-anak sering tidak disadari oleh orang tua. Gejela stress pada anak berupa perubahan fisik dan perilaku. Stress bisa terjadi saat tuntutan yang diberikan dan kemampuan seseorang untuk memenuhi tuntutan tersebut tidak sesuai seperti, orang tua terlalu menuntut anaknya untuk harus mendapat nilai A dalam ujian matematika. Saat anak tersebut mendapatkan nilai B, maka bisa jadi anak tersebut langsung merasa stress karena takut dimarahi orang tuanya saat pulang ke rumah.

Biasanya masing-masing anak punya cara yang berbeda dalam menghadapi stres. Semuanya itu tergantung dari umur mereka, kepribadian mereka, dan cara mereka dalam sesuatu masalah. Oleh karena itu, orang tua perlu mengenali gejala stress pada anak.

Gejala-gejala stress pada anak

  1. Tidak dapat mempertahankan kontak mata
  2. Tidak mau disentuk orang lain
  3. Menunjukkan perilaku yang tidak kooperatif
  4. Tidak terbuka dengan perubahan
  5. Hanya ingin bermain, tidak ingin berinteraksi dengan orang lain
  6. Cenderung pilih-pilih teman, hanya ingin bermain dengan anak tertentu
  7. Ingin orang tua lebih dekat pada mereka daripada biasanya
  8. Menjadi tidak fokus saat mengerjakan tugas atau saat bermain
  9. Sering memegang suatu benda yang membuatnya terasa nyaman
  10. Terjebak melakukan permainan atau aktivitas yang berulang
  11. Susah tidur atau tidur lebih lama daripada biasanya. Perubahan pola tidur pada anak-anak dapat menjadi salah satu penanda kalau anak sedang stres.
  12. Kehilangan nafsu makan atau makan lebih banyak daripada biasanya.
  13. Menjadi pemarah. Anak-anak cenderung kurang bisa mengekspresikan perasaan ngambek dan sifatnya cenderung berubah-ubah.

Penyebab stress pada anak

Orang tua mungkin penasaran bagaimana anak-anak bisa stress. Jika orang dewasa kebanyakan mengalami stress karena urusan pekerjaan, keuangan, masalah politik, dan hubungan, lain halnya stress yang dialami anak-anak. Seorang anak juga dapat mengalami stress karena pekerjaan rumah, kegiatan esktrakurikuler, dan konflik dengan temannya. Hal ini adalah beberapa masalah umum yang dapat menyebabkan stress pada anak.

  • Faktor keluarga, seperti perceraian orangtua, kematian anggota keluarga, pindah ke rumah baru atau kelahiran saudara kandung. Misalnya saja kelahiran saudara kandung dapat membuat anak merasa cemburu, takut kalau ia tidak akan disayang lagi oleh orang tuanya.
  • Kegiatan yang terlalu padat. Sudah merasa capek di sekolahan, masih harus mengikuti les ini dan itu. Anak-anak juga masih butuh waktu bermain.
  • Tuntutan prestasi akademik dari orang tua. Anak-anak sering merasa takut untuk membuat kesalahan atau jika tidak sempurna dalam melakukan sesuatu.
  • Bullying. Anak-anak yang sering di-bully biasanya takut atau malu untuk menceritakannya kepada guru atau orangtuanya karena takut terlihat lemah di depan teman-temannya.
  • Menonton atau membaca sesuatu yang seram. Walaupun cerita seram yang dibaca atau ditontonnya adalah cerita fiksi, namun tak jarang ini dapat menimbulkan stress bagi anak-anak.