Paronikia, Nanah Pada Kuku

  • June 29, 2020
Paronikia merupakan infeksi kulit di sekitar kuku tangan dan kaki Anda

Paronikia adalah infeksi kulit di sekitar kuku dan kuku kaki Anda. Bakteri atau sejenis ragi yang disebut Candida biasanya menyebabkan infeksi ini. Bakteri dan ragi bahkan dapat bergabung dalam satu infeksi.

Tergantung pada penyebab infeksi, paronikia dapat muncul perlahan dan berlangsung selama berminggu-minggu atau muncul tiba-tiba dan hanya berlangsung selama satu atau dua hari. Gejala paronychia mudah dikenali dan biasanya dapat dengan mudah dan berhasil diobati dengan sedikit atau tanpa kerusakan pada kulit dan kuku Anda.  Infeksi Anda bisa menjadi parah dan bahkan mengakibatkan kuku Anda hilang sebagian atau seluruhnya jika tidak dirawat.

Paronikia juga disebut whitlow. Hal ini mungkin berhubungan dengan felon, yaitu infeksi pada pulpa di ujung jari. Paronikia bisa akut, yaitu kurang dari 6 minggu atau kronis dimana kondisi bertahan lebih dari 6 minggu.

  • Paronikia akut

Infeksi akut hampir selalu terjadi di sekitar kuku dan berkembang dengan cepat.  Biasanya akibat kerusakan pada kulit di sekitar kuku karena menggigit, memetik, hangnail, manikur, atau trauma fisik lainnya.  Bakteri Staphylococcus dan Enterococcus adalah agen infeksi yang umum dalam kasus paronychia akut.

  • Paronikia kronis

Paronikia kronis dapat terjadi pada jari tangan atau kaki Anda, dan ia muncul perlahan. Kondisi ini biasanya berlangsung selama beberapa minggu dan sering kembali. Hal ini biasanya disebabkan oleh lebih dari satu agen penular, seringkali Candidayeast dan bakteri.

Paronikia kronis lebih umum terjadi pada orang yang terus-menerus bekerja di air.  Kulit yang basah secara kronis dan perendaman yang berlebihan mengganggu penghalang alami kutikula. Hal ini memungkinkan ragi dan bakteri tumbuh dan berada di bawah kulit untuk membuat infeksi.

Gejala paronikia akut dan kronis sangat mirip. Kondisi ini sebagian besar dibedakan dari satu sama lain oleh kecepatan serangan dan durasi infeksi. Infeksi kronis datang perlahan dan berlangsung selama berminggu-minggu. Infeksi akut berkembang dengan cepat dan tidak bertahan lama.  Kedua infeksi dapat memiliki gejala berikut:

  • Kemerahan kulit di sekitar kuku Anda
  • Kelembutan kulit di sekitar kuku Anda
  • Lepuh berisi nanah
  • Perubahan bentuk, warna, atau tekstur kuku
  • Pelepasan pada kuku Anda

Terdapat beberapa penyebab paronikia akut dan kronis. Penyebab yang mendasari masing-masing adalah bakteri, ragi Candida, atau kombinasi dari dua agen.

  • Paronikia akut

Agen bakteri yang diperkenalkan ke daerah sekitar kuku Anda oleh beberapa jenis trauma biasanya menyebabkan infeksi akut.  Hal ini bisa terjadi dari menggigit atau mencungkil kuku atau hangnail, ditusuk oleh alat manikur, menekan kutikula Anda terlalu agresif, dan jenis cedera serupa lainnya.

  • Paronikia kronis

Agen yang mendasari infeksi pada paronikia kronis yang paling umum adalah ragi Candida, tetapi bisa juga bakteri. Karena ragi tumbuh dengan baik di lingkungan yang lembab, infeksi ini sering disebabkan oleh kaki atau tangan Anda yang terlalu sering dalam air. Peradangan pada paronikia kronis juga berperan.

Dalam kebanyakan kasus, dokter dapat mendiagnosis paronikia hanya dengan mengamatinya.

Dokter Anda dapat mengirim sampel nanah dari infeksi Anda ke laboratorium jika pengobatan tampaknya tidak membantu.  ni akan menentukan agen penular yang tepat dan akan memungkinkan dokter Anda meresepkan pengobatan terbaik. Beberapa bukti laboratorium infeksi, seperti:

  • Mikroskop pewarnaan gram dapat mengungkapkan bakteri
  • Mikroskopi kalium hidroksida dapat mengungkapkan jamur
  • Kultur bakteri
  • Penyeka virus
  • Tzanck smears
  • Guntingan kuku untuk kultur (mikologi)

Perawatan di rumah seringkali sangat berhasil dalam mengobati kasus-kasus ringan. Jika Anda memiliki koleksi nanah di bawah kulit, Anda dapat merendam area yang terinfeksi dalam air hangat beberapa kali sehari dan mengeringkannya secara menyeluruh sesudahnya. Perendaman akan mendorong area untuk mengalir sendiri. Dokter Anda mungkin akan meresepkan antibiotik jika infeksinya lebih parah atau jika paronikia tidak menanggapi perawatan di rumah. 

Paronikia kronis lebih sulit diobati. Anda harus pergi ke dokter karena perawatan di rumah tidak mungkin berhasil. Dokter Anda mungkin akan meresepkan obat antijamur dan menyarankan Anda untuk tetap mengeringkannya. Dalam kasus yang parah, Anda mungkin memerlukan pembedahan untuk mengangkat bagian kuku Anda.  Perawatan topikal lain yang menghambat peradangan juga dapat digunakan.

Paronikia akut biasanya hilang sepenuhnya dalam beberapa hari, dan jarang kambuh pada orang sehat. Namun paronikia kronis dapat bertahan selama berbulan-bulan atau lebih dan dapat terulang pada individu yang memiliki kecenderungan. Jika Anda memiliki gejala-gejala paronikia, Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Dampak Terapi Okupasi untuk Perkembangan Anak Autisme

  • April 5, 2020

Anak yang kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari sering ditemui dengan gangguan spektrum autisme. Gangguan ini dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam memahami peraturan sosial, ketidakpatuhan terhadap peraturan sosial yang berlaku, kurang fleksibel terhadap hal-hal baru dan ketertarikan pada hal yang dikenal seja sehingga sulit untuk mencoba hal baru, perilakunya cenderung repetitive, hingga gangguan aktivitas (hipo atau hiperaktif).

Terapi okupasi dan autisme

Meskipun hingga saat ini penyebab dari gangguan spektrum autisme belum diketahui secara pasti, tetapi pada umumnya anak dengan gangguan autisme membutuhkan beberapa terapi seperti, terapi okupasi.

Terapi okupasi bukanlah terapi yang berhubungan dengan pekerjaan, terapi ini bertujuan untuk membantu anak dengan disabilitas fisik, sensorik atau kognitif dapat hidup dengan mandiri dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Diharapkan anak dengan gangguan spektrum autisme bisa bermain, bersekolah, dan melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri, sehingga kualitas hidup baik di sekolah dan di rumah meningkat. Berikut kemampuan yang dapat dicapai dengan terapi okupasi:

  • Merawat diri sendiri, seperti toilet training, memakai baju secara mandiri, menggosok gigi, dan menyisir rambut.
  • Kemampuan motorik halus seperti kemampuan memegang pensil untuk menulis
  • Kemampuan motorik kasar seperti berjalan atau mengendarai sepeda
  • Kemampuan persepsi dengan harapan anak dengan gangguan spektrum autisme dapat membedakan warna, bentuk, dan ukuran
  • Kepekaan terhadap tubuh sendiri dan hubungan antar anggota tubuh yang lain
  • Kemampuan visual untuk membantu dalam membaca dan menulis
  • Kemampuan untuk beradaptasi, bersosialisasi, menyelesaikan masalah, dan berkomunikasi.

Meningkatkan kemampuan anak dengan autisme dengan terapi okupasi

Jangan anggap sepele, ternyata dengan meningkatnya kemampuan tersebut pada anak dengan gangguan spektrum autisme dapat membantu mereka untuk membangun hubungan dengan orang lain, melatih konsentrasi, mengungkapkan perasaan dengan cara yang lebih tepat, bermain, dan dapat mengontrol diri sendiri. Sangat penting bagi para orang tua untuk memahami bahwa gangguan spektrum autisme memiliki variasi gejala yang berbeda mulai dari ringan hingga berat. Kebutuhan dan efek terapi okupasi juga akan berbeda-beda sesuai dengan spektrum gejala autisme yang timbul pada anak

Jangan Asal Pilih Makanan! Berikut Makanan Penyebab Kanker Paru Beserta Penangkalnya

  • March 31, 2020

Tidak hanya kebiasaan atau gaya hidup tertentu, makanan dan minuman yang Anda konsumsi tanpa sadar ternyata juga dapat menjadi penyebab kanker paru. Mengubah pola hidup dan menghindari kebiasaan merokok belum cukup untuk menangkal risiko kanker paru-paru. Anda juga perlu berhati-hati terhadap setiap makanan dan minuman yang Anda konsumsi.

Makanan apa saja yang dapat menjadi penyebab kanker paru?

Di bawah ini, terdapat daftar makanan yang sebaiknya Anda hindari, sehingga risiko terkena kanker paru tidak semakin besar.

  • Makanan dengan kandungan lemak jenuh tinggi

Dikatakan bahwa seseorang yang mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak jenuh yang tinggi berpotensi lebih besar terkena kanker paru. Tidak hanya menjadi penyebab kanker paru, makanan dengan kandungan lemak jenuh berbahaya bagi tubuh, karena dapat memicu kolesterol jahat. Memang, sudah seharusnya Anda mengurangi makanan berlemak demi kesehatan tubuh Anda di masa depan.

  • Mengonsumsi suplemen beta karoten dalam jangka waktu yang cukup lama

Cara terbaik bagi Anda untuk memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi dalam tubuh, yaitu dengan mengonsumsi makanan sehat secara langsung, bukan dengan suplemen tambahan.

  • Mengonsumsi karbohidrat olahan

Sebagai alternatif, Anda dapat mengonsumsi sumber karbohidrat lain, seperti roti gandum, beras merah dan diseimbangkan dengan sayuran yang kaya serat. Dengan begitu, Anda tidak hanya dapat mengurangi potensi kanker paru, namun juga menurunkan kolesterol dan mencegah diabetes.

  • Makanan dengan kandungan arsenik

Mengonsumsi makanan dengan kandungan arsenik dapat berisiko merusak paru-paru. Kerusakan paru-paru tersebut dikatakan setara dengan seseorang yang aktif merokok selama puluhan tahun.

Makanan ini membantu menangkal kanker paru

Setelah Anda mengetahui jenis makanan apa saja yang menjadi penyebab kanker paru, berikut ini Anda dapat memilih berbagai makanan sehat untuk disantap sebagai penangkal kanker paru:

  • Makanan dengan kandungan karotenoid tinggi: wortel, paprika hijau dan merah, serta ubi jalar. Jenis makanan ini juga kaya akan antioksidan yang dapat melindungi kesehatan paru.
  • Jenis sayur silangan: brokoli dan kubis yang dipercaya memiliki sifat antikanker.
  • Makanan yang memiliki kandungan vitamin E: kacang-kacangan, alpukat, mangga, dan bibit gandum. Vitamin E dikatakan dapat memelihara kesehatan sel-sel paru.

Menelan Magnet Menyebabkan Perforasi Usus pada Anak

  • March 31, 2020

Mungkin Anda pernah mendengar kasus anak balita yang menelan mainan plastik, kerikil, koin atau manik-manik. Kasus yang sekarang cukup banyak terjadi di berbagai negara adalah anak yang menelan mainan magnet atau bola-bola magnet. Para korban biasanya balita hingga remaja, yang menelan magnet secara sengaja maupun tidak disengaja. Jika tertelan lebih dari satu atau banyak, magnet tersebut dapat saling menempel dengan kuat di dalam saluran pencernaan sehingga mengakibatkan perforasi gastrointestinal.

Perforasi gastrointestinal merupakan luka atau lubang yang terbentuk di saluran pencernaan. Jadi lubangnya bisa saja muncul di esophagus, lambung, usus, dan usus besar. Jika saluran pencernaan berlubang, maka isinya bisa mengalir ke rongga perut dan menyebabkan peritonitis atau radang pada lapisan rongga perut. Peritonitis sangat berbahaya karena infeksinya dapat masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Jika kondisi ini terjadi, korban bisa mengalami gagal organ-organ tubuh dan meninggal.

Umumnya, perforasi disebabkan oleh penyakit seperti diverticulitis, radang usus buntu dan penyakit Crohn. Bisa juga terjadi lubang akibat trauma fisik, seperti tusukan pisau dan luka tembak. Penyebab yang jarang terjadi, tapi saat ini kasusnya meningkat, adalah tertelannya benda asing seperti magnet yang dapat merusak organ pencernaan. Kasus anak yang menelan mainan magnet atau manik-manik gelang magnet hingga terjadi perforasi gastrointestinal terjadi di Inggris, Kanada, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Orang tua tidak menyadari hal itu hingga anak-anak mereka mengeluhkan sakit perut yang hebat, demam, dan muntah yang mengeluarkan cairan berwarna aneh seperti kuning atau cokelat gelap.

Pada beberapa kasus tersebut, dokter terpaksa memotong dan membuang bagian usus yang berlubang karena sudah terlanjur rusak parah. saat anak dicurigai menelan dua magnet atau lebih, segeralah bawa ke rumah sakit. Menelan satu saja mungkin bisa membahayakan nyawa, tapi dua atau lebih kekuatan tarik-menarik antar magnet bisa menyebabkan organ pencernaan yang harusnya terpisah jadi saling menempel terbawa magnet dan timbul perforasi di area magnet menempel.

Inkontinensia Urine, Akibat Kandung Kemih Terlalu Aktif

  • February 27, 2020

Inkontinensia urine adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat mengontrol keluarnya air seni. Tingkat keparahan kondisi ini juga bervariasi. Kondisi ini bisa berupa keluarnya sedikit air seni secara tidak sengaja ketika batuk, bersin, bisa juga berupa dorongan untuk buang air kecil secara mendadak dan mendesak, sehingga sampai menyebabkan mengompol. Kondisi ini dapat terjadi secara temporer atau bisa bertahun-tahun tergantung penyebabnya. Salah satu jenis inkontinensia adalah inkontinensia dorongan, yaitu tidak bisa mengontrol keluarnya urine karena sangat mendesak urine keluar secara tiba-tiba.

Inkontinensia dorongan sering juga disebut kandung kemih over aktif, karena desakan yang tidak bisa ditahan untuk buang air kecil disebabkan oleh otot-otot detrusor kandung kemih yang terlalu aktif berkontraksi. Selain dorongan mendadak untuk buang air kecil yang tidak bisa ditahan, gejala lain kandung kemih yang terlalu aktif adalah terlalu sering kebelet popo dalam sehari-semalam, begitu terasa harus segera ke kamar kecil karena sulit ditahan. Hal tersebut tentu saja dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, karena membatasi kelulasaan penderitanya untuk bepergian.

Penyebab pasti mengapa otot detrusor kandung kemih menjadi terlalu aktif tidak diketahui, tetapi ada faktor risikonya antara lain perubahan hormonal, adanya kejang dan pelemahan pada otot panggul, infeksi saluran kemih, efek samping dari obat tertentu dan penyakit yang mempengaruhi otak serta saraf tulang belakang, misalnya stroke dan multiple sclerosis. Jika penyebabnya adalah infeksi saluran kemih tentu saja gejala inkontinensia akan berhenti begitu infeksinya sembuh. Tetapi jika penyebabnya tidak jelas, tentulah tidak semudah itu mengatasinya.

Mengatasi inkontinensia dorongan bisa dilakukan dengan modifikasi gaya hidup, misalnya membatasi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kafein dan alkohol karena dapat mempengaruhi produksi air seni dan mengiritasi kandung kemih. Latihan kegel yang memperkuat otot dasar panggul juga dianjurkan untuk mengatasi inkontinensia. Kontraksikan otot panggul seperti menahan pipis, tahan beberapa detik dan lepas. Latihan tersebut mudah dilakukan dan bisa dilakukan sambil duduk di mobil, saat menonton tv, sambil kerja di depan laptop dan sebagainya.

Ketahui Golongan Darah dan Rhesus untuk Mencegah Anemia Hemolitik

  • January 2, 2020

Mengetahui golongan darah sangat penting untuk mengetahui kecocokan antara pendonor dan penerima darah. Selain golongan darah ABO yang terdiri dari A, B, AB dan O, penting juga untuk mengetahui rhesus darah positif atau negatif, terutama bagi perempuan calon ibu. Ketidakcocokan golongan darah pada penerima transfusi atau ketidakcocokan rhesus antara ibu dan bayinya bisa menyebabkan anemia hemolitik. Anemia hemolitik adalah kekurangan sel darah merah yang disebabkan oleh penghancuran sel-sel darah merah secara prematur. Normalnya sel darah merah akan dihancurkan dalam waktu 120 hari dan digantikan oleh sel darah merah baru yang diproduksi di sumsum tulang.

Saat penghancuran sel darah merah terjadi dalam jangka waktu terlalu cepat, sumsum tulang tidak mampu secepat itu memproduksi sel darah merah pengganti, akibatnya terjadilah anemia. Anemia hemolitik bisa juga terjadi akibat infeksi virus dan bakteri, akibat penggunaan obat seperti anti malaria, akibat penyakit autoimun, akibat menerima transfusi darah dari donor dengan golongan darah yang berbeda serta akibat bayi berbeda rhesus darah dengan ibu kandungnya. Perlu Anda tahu, setiap golongan darah memiliki rhesus, bisa negatif atau positif. Rhesus merupakan sejenis protein di permukaan sel darah merah, jika sel darah memiliki protein ini berarti rhesus positif.

Seseorang dengan rhesus darah negatif misalnya, akan mengalami reaksi imunitas saat menerima darah dengan rhesus positif, perempuan hamil dengan rhesus negative juga akan mengalami hal tersebut jika bayi yang dikandung memiliki rhesus positif. Sel darah rhesus positif akan dihancurkan oleh sistem imunitas tubuh pemilik rhesus negatif karena dianggap sebagai benda asing yang membahayakan. Timbullah kondisi anemia hemolitik pada penerima transfusi dan bayi yang berbeda rhesus dengan ibunya. Kondisi anemia hemolitik akan menimbulkan gejala:

  • Denyut jantung terlalu cepat
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Rasa lemas
  • Warna kulit dan mata menguning
  • Warna urine menjadi gelap
  • Limpa yang membesar

Untuk mencegah terjadinya anemia hemolitik pada penerima transfusi darah, perlu didapat donor yang cocok golongan darahnya. Sedangkan untuk mencegah terjadinya pada bayi, berikan obat pada ibu dengan rhesus negatif agar antibodinya tidak menyerang sel darah merah bayi dengan rhesus positif.