Gangguan Kecemasan Sosial, Kenali Penyebab dan Gejalanya

  • October 14, 2020

Saat berinteraksi dengan orang lain, adalah hal wajah untuk merasa cemas atau takut. Akan tetapi, jika rasa takut dan cemas dialami secara berlebihan dan terus menerus, tentu bukan hal normal lagi. Kondisi seperti ini bisa jadi pertanda bahwa Anda mengalami gangguan kecemasan sosial.

Gangguan kecemasan sosial merupakan gangguan yang membuat seseorang merasa cemas, takut, atau pun merasa malu terhadap interaksi sehari-hari. Biasanya penderita gangguan kecemasan sosial ini akan merasa stres dan cenderung menghindari orang lain.

Hal-hal yang yang ditakutkan pun sebenarnya merupakan interaksi sosial yang normal dilakukan. Misalnya ketika makan di depan orang, berjabat tangan, menatap mata orang lain, dan interaksi sosial umum lainnya.

Rasa cemas yang dialaminya pun tergolong intens sehingga memengaruhi fisiknya seperti berkeringat berlebihan, jantung berdetak cepat, dan lainnya.

Penyebab Seseorang Mengalami Gangguan Kecemasan Sosial

Gangguan kecemasan sosial ini belum diketahui pasti apa penyebabnya. Kondisi ini bisa saja dipicu situas yang baru atau belum pernah dilakukan sebelumnya. Kondisi fobia sosial ini juga terkait pada beberapa faktor seperti:

  • Struktur Otak

Hal ini dikarenakan bagian otak untuk mengendalikan respon rasa takut (amigdala) terlalu aktif merespon rasa takut yang dialami.

  • Faktor Lingkungan

Penderita pernah mengalami intimidasi atau pelecehan dari orang lain, adanya kejadian yang membuat seseorang merasa dipermalukan di situasi sosial, orangtua yang terlalu mengontrol anak, hingga orang terdekat atau di lingkungan penderita memang terlalu pencemas.

  • Faktor Genetik

Gangguan kecemasan sosial ini bisa juga merupakan turunan dari keluarga. Anak yang pemalu juga cenderung akan lebih cemas secara sosial.

Ciri atau Gejala Seseorang Mengalami Gangguan Kecemasan Sosial

Individu yang mengalami fobia sosia ini biasanya menunjukkan gejala atau ciri-ciri. Berikut gejala-gejalanya:

  • Situasi-situasi sosial hampir selalu memicu rasa takut dan rasa cemas pada individu. Biasanya pada anak-anak, kecemasan ini diekspresikan dalam bentuk berupa tangisan, menciutkan bibir, tidak sanggup berbicara, atau bisa juga menggenggam erat orang yang dikenalnya pada situasi sosial tertentu.
  • Individu menyadari bahwa ketakutan yang dirasakannya berlebihan dan bahkan tidak masuk akan. Tentu saja pada anak-anak kriteria ini tidak atau belum bisa terlihat.
  • Seseorang merasa takut individu akan berperilaku atau memperlihatkan rasa kecemasannya yang mungkin saja dievaluasi secara negatif oleh orang lain.
  • Rasa kecemasan dan ketakutan yang jelas terhadap situasi sosial yang menempatkan seseorang di osisi yang bisa dikritik oleh orang lain. Kondisi ini pada anak-anak bisa terlihat ketika mereka bersama teman sebayanya.
  • Kecemasan ataupun rasa ketakutan tersebut dirasakan terus menerus selama enam bulan atau lebih
  • Rasa cemas, takut, dan penghindaran ini akan menyebabkan adanya gangguan pada berbagai aspek sosial kehidupan penderitanya seperti pekerjaan, kehidupan sehari-hari dan aspek-aspek lainnya
  • Pada konteks sosial budaya, ketakutran dan kecemasan itu tidak sesuai dengan ancaman nyata yang terjadi di situasi sosial
  • Rasa cemas dan ketakutan akibat gangguan kecemasan sosial ini tidak berhubungan dengan kondisi medis lainnya
  • Rasa takut dan kecemasan ini bukanlah merupakan efek dari zat-zat atau kondisi medis lainnya
  • Biasanya situasi-situasi sosial dihindari dengan kecemasan dan rasa takut yang intens
  • Rasa cemas, ketakutan, dan penghindaran tidak bisa dijelaskan oleh gejala dari gangguan mental lainnya.

Selain kriteria yang disebutkan di atas, ada juga gejala fisik yang terlihat pada penderitanya, seperti gemetaran, merasa mual atau mengalami gangguan perut, pipi memerah, detak jantung menjadi cepat, berkeringat, sulit bernapas, pusing, hingga pikiran menjadi kosong.

Gangguan kecemasan sosial ini memang tidak bisa dicegah. Jika mengalami gejala-gejala di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan mental. Dampak gangguan kecemasan juga bisa diturunkan dengan melakukan relaksasi, mencatat peristiwa penting yang membuat Anda merasa cemas di jurnal, dan mendiskusikannya dengan dokter.

fadli

E-mail : admin@euskanikross.net

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*