Hitung Cermat Periode Ovulasi sebagai Cara agar Cepat Hamil

  • January 23, 2020

Berbagai cara dilakukan oleh pasangan yang menikah agar cepat memiliki momongan. Banyak cara agar cepat hamil dapat dilakukan. Namun, dalam merencanakan program kehamilan ini, Anda membutuhkan pertimbangan dan persiapan yang matang. Banyak faktor yang berperan dalam proses untuk mendapatkan momongan.

Mungkin Anda sudah familiar dengan saran untuk menerapkan pola hidup sehat, meningkatkan kesuburan pria, hingga menghindari konsumsi alkohol, sebagai cara agar cepat hamil. Namun, apakah Anda sudah menghitung periode ovulasi dengan tepat?

Setidaknya terdapat 25-30% peluang untuk hamil bagi pasangan dengan siklus menstruasi normal, pasangan yang subur, dan sedang mengenakan kontrasepsi. Perhitungan siklus menstruasi berkisar pada 28 hari, sementara itu sel telur hanya dapat dibuahi selama 12-24 jam.

Pada dasarnya siklus menstruasi wanita bervariasi, mulai dari 21-35 hari, di mana hari pertama menstruasi ditandai sebagai proses dimulainya siklus. Bagi seorang wanita yang memiliki siklus menstruasi selama 28 hari, masa suburnya akan berlangsung pada hari ke-10 hingga hari ke-17 dihitung dari hari terakhir menstruasi. Walaupun begitu, perhitungan tepat kapan ovulasi terjadi, masih sulit diprediksi.

Setidaknya, terdapat dua tips yang dapat Anda lakukan untuk memprediksi periode ovulasi:

  • Kenali tekstur lendir serviks

Ketika dalam masa subur, lendir serviks akan dikeluarkan sebagai pertanda dari kondisi keputihan yang normal. Tekstur dan kondisi lendir inilah yang perlu Anda amati. Pada awalnya, lendir akan bertekstur kental dan berwarna putih susu. Ketika diregangkan, lendir akan mudah putus dikarenakan teksturnya yang kental. Pada saat mendekati periode ovulasi, lendir akan bertambah semakin banyak, lebih cair, berwarna bening dan terasa lebih licin.

  • Mengamati perubahan suhu tubuh secara berkala

Siapa sangka bahwa perubahan suhu tubuh dapat menjadi tanda dari periode ovulasi? Ukurlah tubuh Anda segera setelah bangun tidur sebelum Anda beranjak dari tempat tidur. Ketika periode setengah siklus menstruasi pertama, suhu tubuh akan berada pada suhu yang rendah dan beranjak meningkat ketika mendekati periode ovulasi. Pada saat periode ovulasi terjadi, suhu tubuh akan meningkat sekitar setengah derajat.

Namun, di luar dari tips ini, Anda masih tetap dapat mengoptimalkan kesempatan untuk cepat hamil dengan cara meningkatkan frekuensi berhubungan seksual dengan pasangan, setidaknya 2-3 kali dalam seminggu.

Ketahui Golongan Darah dan Rhesus untuk Mencegah Anemia Hemolitik

  • January 2, 2020

Mengetahui golongan darah sangat penting untuk mengetahui kecocokan antara pendonor dan penerima darah. Selain golongan darah ABO yang terdiri dari A, B, AB dan O, penting juga untuk mengetahui rhesus darah positif atau negatif, terutama bagi perempuan calon ibu. Ketidakcocokan golongan darah pada penerima transfusi atau ketidakcocokan rhesus antara ibu dan bayinya bisa menyebabkan anemia hemolitik. Anemia hemolitik adalah kekurangan sel darah merah yang disebabkan oleh penghancuran sel-sel darah merah secara prematur. Normalnya sel darah merah akan dihancurkan dalam waktu 120 hari dan digantikan oleh sel darah merah baru yang diproduksi di sumsum tulang.

Saat penghancuran sel darah merah terjadi dalam jangka waktu terlalu cepat, sumsum tulang tidak mampu secepat itu memproduksi sel darah merah pengganti, akibatnya terjadilah anemia. Anemia hemolitik bisa juga terjadi akibat infeksi virus dan bakteri, akibat penggunaan obat seperti anti malaria, akibat penyakit autoimun, akibat menerima transfusi darah dari donor dengan golongan darah yang berbeda serta akibat bayi berbeda rhesus darah dengan ibu kandungnya. Perlu Anda tahu, setiap golongan darah memiliki rhesus, bisa negatif atau positif. Rhesus merupakan sejenis protein di permukaan sel darah merah, jika sel darah memiliki protein ini berarti rhesus positif.

Seseorang dengan rhesus darah negatif misalnya, akan mengalami reaksi imunitas saat menerima darah dengan rhesus positif, perempuan hamil dengan rhesus negative juga akan mengalami hal tersebut jika bayi yang dikandung memiliki rhesus positif. Sel darah rhesus positif akan dihancurkan oleh sistem imunitas tubuh pemilik rhesus negatif karena dianggap sebagai benda asing yang membahayakan. Timbullah kondisi anemia hemolitik pada penerima transfusi dan bayi yang berbeda rhesus dengan ibunya. Kondisi anemia hemolitik akan menimbulkan gejala:

  • Denyut jantung terlalu cepat
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Rasa lemas
  • Warna kulit dan mata menguning
  • Warna urine menjadi gelap
  • Limpa yang membesar

Untuk mencegah terjadinya anemia hemolitik pada penerima transfusi darah, perlu didapat donor yang cocok golongan darahnya. Sedangkan untuk mencegah terjadinya pada bayi, berikan obat pada ibu dengan rhesus negatif agar antibodinya tidak menyerang sel darah merah bayi dengan rhesus positif.