Beberapa Pilihan Perawatan Gangguan Panik

Beberapa Pilihan Perawatan Gangguan Panik

  • July 6, 2021

Gangguan panik dan agorafobia adalah kondisi yang sangat dapat diobati. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang telah didiagnosis dengan masalah panik dapat diobati secara efektif melalui pengobatan, psikoterapi, atau kombinasi dari kedua pendekatan ini.

Cara mengobati gangguan panik

Obat-obatan

Ada banyak obat yang telah terbukti menjadi cara yang aman dan efektif untuk mengobati masalah panik. Obat untuk masalah panik jatuh ke dalam salah satu dari dua kategori: antidepresan dan obat anti-kecemasan. Obat-obatan ini dapat diresepkan untuk mengurangi keparahan serangan panik dan mengurangi perasaan cemas secara umum.

Antidepresan

Seperti namanya, antidepresan pada awalnya digunakan untuk mengobati gangguan mood, seperti depresi dan depresi pada gangguan bipolar. Belakangan ditemukan bahwa antidepresan dapat membantu mengobati gangguan kecemasan, termasuk masalah panik.

Antidepresan juga sering digunakan ketika seseorang memiliki kondisi yang terjadi bersamaan, seperti PTSD atau depresi. Obat yang paling sering diresepkan untuk masalah panik termasuk dalam kelas antidepresan populer yang dikenal sebagai Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI).

Seperti semua antidepresan, SSRI mempengaruhi pembawa pesan kimia di otak, yang disebut neurotransmitter. Secara khusus, SSRI menargetkan neurotransmitter yang disebut serotonin, yang berhubungan dengan suasana hati. SSRI membantu menyeimbangkan kadar serotonin seseorang, yang kemudian dapat membantu mengatur suasana hati, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan kualitas tidur.

Penelitian telah menemukan bahwa SSRI dapat membantu mengurangi intensitas dan frekuensi serangan panik. Beberapa SSRI yang paling umum termasuk Prozac (fluoxetine), Zoloft (sertraline), Paxil (paroxetine), dan Celexa (citalopram). Ada beberapa efek samping yang terkait dengan SSRI.

Obat Antikecemasan

Obat anti-kecemasan, atau obat penenang, direkomendasikan untuk meredakan dan efek penenangnya yang bekerja cepat. Obat-obatan ini memperlambat sistem saraf pusat, yang dapat menyebabkan seseorang merasa lebih tenang dan lebih rileks. Dengan membantu seseorang merasa kurang takut dan cemas, obat anti-kecemasan dapat sangat mengurangi gejala permasalahan panik.

Benzodiazepin adalah kelas obat anti-kecemasan yang biasa diresepkan yang dapat membantu mengurangi keparahan serangan panik. Obat-obatan ini memiliki efek sedatif yang dapat membantu dengan cepat mengurangi gejala panik dan menimbulkan keadaan yang lebih santai.

Beberapa benzodiazepin yang paling populer termasuk Xanax (alprazolam), Klonopin (clonazepam), Valium (diazepam), dan Ativan (lorazepam). Ada beberapa risiko dan potensi efek samping termasuk ketergantungan dan penyalahgunaan yang terkait dengan obat-obatan ini. Namun, benzodiazepin telah ditemukan sebagai obat yang aman dan efektif bila digunakan dengan tepat dalam pengobatan permasalahan panik.

Psikoterapi

Psikoterapi juga telah ditemukan untuk secara efektif mengobati masalah panik dan agorafobia. Melalui psikoterapi, spesialis kesehatan mental dapat membantu klien dalam mengatasi masalah dan perasaan yang belum terselesaikan. Selain itu, terapis dapat membantu klien mengembangkan cara berpikir dan berperilaku yang lebih sehat yang akan membantu mereka mengatasi gejala panik.

Dua bentuk umum psikoterapi untuk masalah panik termasuk terapi perilaku kognitif (CBT) dan psikoterapi psikodinamik yang berfokus pada panik (PFPP).

Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku-kognitif (CBT adalah bentuk psikoterapi yang telah terbukti efektif membantu mengobati gangguan panik. Salah satu tujuan utama CBT adalah mengembangkan keterampilan mengatasi dengan mengubah pola berpikir negatif dan perilaku tidak sehat. Misalnya, banyak orang dengan permasalahan panik memiliki keyakinan negatif, atau distorsi kognitif, tentang diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Pemikiran yang salah ini sering berkontribusi pada perilaku maladaptif, seperti menghindari situasi yang ditakuti. CBT dapat membantu seseorang mengatasi pola berpikir negatif dan mengembangkan cara yang lebih sehat untuk mengelola kondisi mereka.

Melalui desensitisasi sistematis, seorang terapis secara bertahap memperkenalkan klien pada rangsangan yang memicu kecemasan sambil mengajari mereka cara mendapatkan kembali kendali atas kecemasan mereka. Secara bertahap, orang tersebut diperkenalkan pada situasi yang lebih menimbulkan rasa takut, belajar bagaimana mengelola kepanikan mereka melalui setiap situasi yang ditakuti.

Melalui teknik CBT ini, seseorang menghilangkan rasa takutnya dan mengambil cara berpikir dan berperilaku yang baru. Misalnya, seseorang yang takut terbang akan memulai desensitisasi dengan melakukan teknik relaksasi sambil menghadapi stimulus yang hanya menyebabkan sedikit kegugupan, seperti gambar pesawat terbang.

Mereka akhirnya dapat maju ke situasi yang lebih menimbulkan rasa takut, seperti pergi ke bandara atau naik pesawat. Dengan setiap situasi, orang tersebut belajar untuk mengelola gejala panik mereka. Melalui latihan yang berkelanjutan, desensitisasi dapat membantu mereka mengatasi rasa takut terbang.

Psikoterapi Psikodinamik Berfokus Panik

Psikoterapi psikodinamik yang berfokus pada panik (PFPP) adalah metode terapi lain yang digunakan dalam pengobatan panic . Bentuk psikoterapi ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman masa lalu dan konflik emosional yang mungkin telah memengaruhi perkembangan panik dan kecemasan seseorang.

PFPP membantu seseorang mengenali konflik bawah sadar, terutama seputar kemarahan, membantu orang tersebut menyelesaikan konflik ini dengan cara yang tidak terlalu menakutkan dan lebih adaptif. Diyakini bahwa dengan berdamai dengan konflik, fantasi, dan perilaku tertentu, klien kemudian dapat mengatasi masalah mereka dengan gangguan panik.

Biblioterapi dan Macam-macam Terapi yang Menyerupai Hobi

Biblioterapi dan Macam-macam Terapi yang Menyerupai Hobi

  • January 7, 2021

Apa yang Anda bayangkan mengenai terapi psikologi? Kebanyakan orang masih berpikir bahwa terapi psikologi hanya bisa dilakukan dengan cara berbincang dengan psikolog dan menceritakan beragam masalah Anda hingga diberikan solusi. Kenyataannya, terapi psikologi sangat berbeda jauh dengan bayangan tersebut. 

Banyak jenis terapi psikologi yang dapat diberikan kepada psikolog kepada Anda untuk bisa menangani masalah mental dan pikiran yang tengah mengendap. Beberapa di antaranya bahkan dapat membuat Anda tidak sadar tengah menjalani terapi karena kegiatannya mirip dengan hobi tertentu. Ada biblioterapi yang mirip dengan kegiatan membaca buku bahkan ada pula terapi yang membuat Anda merasa seperti sedang bermain drama!

Nyatanya, berbagai jenis terapi psikologi yang menyerupai hobi kerap populer dan dipilih karena membuat pasien lebih rileks melakukannya. Berikut ini adalah beberapa psikologi terapi menyerupai hobi yang patut Anda ketahui. 

  1. Terapi Musik 

Rasanya sulit menemukan orang yang tidak suka mendengarkan musik di dalam hidupnya. Semua orang pasti memiliki jenis musik kesukaannya masing-masing. Mendengarkan musik lewat pengeras suara ataupun earphone sembari bekerja ataupun belajar pun kerap menjadi pilihan orang banyak karena dituding mampu menenangkan sekaligus meningkatkan konsentrasi. Ternyata dalam dunia psikologi, musik juga dapat menjadi salah satu terapi kreatif yang bisa mengobati pasien dengan gangguan mental tertentu. Autisme ataupun kecemasan berlebih menjadi penyakit mental yang kerap diobati dengan terapi musik. 

  1. Terapi Drama 

Orang-orang yang mengalami masalah mental terkait kemampuan bersosialisasi ataupun penurunan rasa kepercayaan diri yang ekstrem kerap disarankan menjalani terapi drama. Dengan melakukan drama, emosional dan fisik seseorang dapat terintegrasi. Gerakan, improvisasi, serta pelibatan banyak orang yang terjadi pada latihan drama akan membuat individu mampu meningkatkan keterampilan mereka secara perlahan. Tidak hanya itu, berbagai gerakan dan improvisasi pada latihan drama juga bisa membuat seseorang memperoleh rasa kepercayaan diri yang besar. 

  1. Terapi Membaca 

Terapi membaca atau yang dikenali sebagai biblioterapi yang mungkin akan sangat disenangi oleh orang yang hobi membaca buku. Tidak sekadar membaca sebenarnya, terapi ini hanya menjadikan literatur sebagai jembatan untuk bisa mengaitkan kondisi penyelesaian masalah yang ada di buku dengan opsi penyelesaian masalah yang pasien hadapi. Jenis buku untuk biblioterapi pun umumnya dipilihkan oleh konselor yang menangani pasien. 

  1. Terapi Hobi 

Anak-anak di bawah usia 12 tahun umumnya senang bermain. Siapa sangka dari kesukaan tersebut dapat menjadi terapi psikologi yang mujarab. Jenis terapi ini kerap diberikan kepada pasien anak-anak berusia 3—12 tahun yang memiliki masalah sosial. Lewat bermain, anak didorong untuk mengungkapkan kebebasan berekspresi sekaligus bersosialisasi. Tujuan dari terapi ini tak lain membantu anak-anak belajar mengekspresikan diri dengan cara yang lebih sehat, menjadi lebih hormat dan empati, serta menemukan cara baru dan lebih positif untuk memecahkan masalah.

  1. Terapi Seni 

Banyak jenis hobi yang dapat dimasukkan ke dalam terapi seni. Menggambar, melukis, sampai memahat merupakan aneka terapi seni yang biasa disarankan pada pasien yang memiliki gangguan kecemasan, depresi, bahkan kepada pasien yang memiliki kecacatan fisik maupun mental. Mengajak pasien menjalani terapi seni untuk menghasilkan suatu karya bisa menjadi batu loncatan untuk membangkitkan kembali ingatan dan kisah dari alam bawah sadar pasien. Di mana kisah-kisah tersebut umumnya menjadi penyebab dari kondisi yang dialaminya. 

*** 

Biblioterapi dan berbagai jenis terapi di atas hanya sebagian kecil dari beragam jenis terapi psikologis. Jangan kaget jika menemukan jenis terapi lainnya yang tidak disangka-sangka. Namun biasanya, terapi tersebut bukanlah obat utama. Tetap diperlukan konsultasi kepada konselor.

penyebab caper

Penyebab Caper pada Si Kecil dan Cara Mengatasinya

  • October 24, 2020

Banyak orang tua berpikir salah satu penyebab caper pada si kecil terkait dengan gangguan psikologis seperti ADHD. Padahal perilaku caper pada anak tidak selalu disebabkan oleh gangguan psikologis atau medis lainnya.

Dalam rentang usia 3 hingga 7 tahun, anak belum bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginannya. Hal inilah yang mendorong mereka menjadi caper dan itu adalah normal.

Penyebab anak cari perhatian

Untuk memahami si kecil, ada baiknya mengetahui anak bersikap demikian. Ada banyak penyebab caper pada anak diantaranya:

  • Merasa kesepian atau tersisihkan dengan saudaranya yang lain
  • Merasa diabaikan karena orang tua sibuk bekerja
  • Tidak mendapatkan cukup perhatian dari orang tua
  • Tidak mendapatkan cukup perhatian di sekolah atau luar lingkungannya
  • Tidak memiliki teman di sekolah atau sulit berteman
  • Pengalaman atau trauma masa lalu

Jenis perhatian pada anak

Salah satu tujuan anak-anak mencari perhatian adalah meminta persetujuan. Jenis perilaku caper yang berbeda menghasilkan respon yang berbeda pula pada orang tua. Ada tiga jenis perhatian yang perlu diperhatikan:

  • Perhatian positif

Ketika anak melakukan hal positif, seperti merapihkan mainan setelah digunakan atau meletakkan piringnya sendiri di tempat cuci piring, maka jangan sungkan untuk beri dia pujian.

Memberi respon positif akan meningkatkan perilaku yang baik pada anak. Inilah yang dinamakan perhatian positif.

  • Perhatian negatif

Ketika anak berperilaku buruk, atau bandel, orang tua akan kehilangan kesabaran dan memarahi mereka. Tanpa Anda sadari, Anda telah memberi perhatian pada mereka, walau Anda merasa menghukumnya.

Ketika Anda merespon terhadap perilaku negatif mereka, Anda seakan mengajari dengan cara yang buruklah mereka dapat mengendalikan Anda. Anak-anak akan senang karena berpikir hanya dengan cara itu mereka bisa mendapat perhatian orang lain.

Hal ini akan menciptakan lingkaran setan. Anak berperilaku buruk, Anda memberi perhatian, dan perilaku buruk anak akan semakin menjadi-jadi.

  • Tidak ada perhatian

Jenis perhatian ini adalah ketika Anda tidak memuji perilaku positif yang diperlihatkan anak. Mungkin dalam hati Anda bersyukur anak tidak bertengkar satu sama lain, namun mereka tidak mengetahui bagaimana perasaan Anda.

Mengatasi anak yang suka mencari perhatian

Untuk mengendalikan anak yang suka cari perhatian dan mendukung perubahan positif pada mereka, ada beberapa anjuran dan larangan yang sebaiknya dicoba:

  • Bersikap empati

Empati berarti Anda memahami bahwa perilaku yang si kecil tampilkan mungkin berasal dari ketidak dewasaan perkembangan. Mungkin agak sulit dilakukan, terutama ketika mereka sedang bersikap menjengkelkan.

Ketika Anda melihat perilaku caper anak dari kacamata yang berbeda, Anda bisa memahami apa yang mereka mampu dan tidak mampu tangani, dan Anda bisa merespon lebih tepat.

  • Berikan lebih banyak perhatian positif

Berikan anak perhatian yang cukup dengan terlibat dalam kegiatannya, bukan memenuhi semua permintaa anak. Anda bisa menemaninya bermain, bercengkrama sepulang sekolah, atau membacakan cerita sebelum tidur. Lakukanlah kegiatan ini secara konsisten.

  • Abaikan anak saat diperlukan

Sesekali abaikan perilaku anak ketika dia menjerit, berteriak, atau bahkan melempar barang. Jelaskan padanya bahwa Anda tidak akan mendengarkannya hingga dia benar-benar tenang.

  • Jelaskan pada anak mengenai kondisi darurat

Terkadang anak menginterupsi ketika Anda dalam keadaan darurat, misalnya panci yang mendidih. Beri penjelasan kepada mereka mana keadaan yang benar-benar membutuhkan perhatian Anda, dan mana keadaan yang bisa ditunda.

  • Tetapkan aturan pada anak

Buatlah daftar aturan beserta konsekuensi yang didapat bila melanggar. Anda bisa menerapkan sistem token ekonomi.

Misalnya, Anak memiliki 50 bintang dan diberi misi mengumpulkan hingga 100 bintang. Setiap anak berteriak atau menunjukkan perilaku buruk, 5 bintang akan dikurangi. Setiap anak menunjukkan perilaku positif, 5 bintang akan ditambahkan. Beri pujian atau hadiah setiap ia berhasil menyelesaikan misinya.

Ketika Anda telah menetapkan daftar peraturan, konsistenlah dalam pemberian konsekuensi agar anak tidak bingung.

Adapun beberapa hal yang tidak boleh dilakukan antara lain:

  • Meneriaki anak, terutama ketika Anda merasa lelah dan penat. Beri mereka perhatian bila Anda lelah lalu jauhkan diri hingga Anda benar-benar bisa tenang menghadapi si kecil
  • Membuat anak merasa bersalah atas perilaku mereka. Jangan timpakan mereka beban emosional bila Anda merasa tertekan atas rengekan mereka. 
  • Menganggap ada yang salah dengan anak, seperti mengaitkan penyebab caper pada anak dengan ADHD atau gangguan klinis lainnya. Namun, jika Anda khawatir, Anda bisa konsultasikan dengan dokter.
  • Menempatkan diri dibawah anak dengan mengikuti semua permintaannya. Terkadang ada hal-hal yang tidak bisa dituruti. Jangan merasa bersalah atas hal tersebut.

Catatan

Mengetahui penyebab caper pada anak tak sesulit mengatasi anak yang suka cari perhatian. Bila Anda tetap merasa kesulitan mengatasi dan mengontrol perilaku si kecil, diskusikanlah dengan konselor atau psikolog anak untuk hasil yang terbaik.

Gangguan Kecemasan Sosial, Kenali Penyebab dan Gejalanya

  • October 14, 2020

Saat berinteraksi dengan orang lain, adalah hal wajah untuk merasa cemas atau takut. Akan tetapi, jika rasa takut dan cemas dialami secara berlebihan dan terus menerus, tentu bukan hal normal lagi. Kondisi seperti ini bisa jadi pertanda bahwa Anda mengalami gangguan kecemasan sosial.

Gangguan kecemasan sosial merupakan gangguan yang membuat seseorang merasa cemas, takut, atau pun merasa malu terhadap interaksi sehari-hari. Biasanya penderita gangguan kecemasan sosial ini akan merasa stres dan cenderung menghindari orang lain.

Hal-hal yang yang ditakutkan pun sebenarnya merupakan interaksi sosial yang normal dilakukan. Misalnya ketika makan di depan orang, berjabat tangan, menatap mata orang lain, dan interaksi sosial umum lainnya.

Rasa cemas yang dialaminya pun tergolong intens sehingga memengaruhi fisiknya seperti berkeringat berlebihan, jantung berdetak cepat, dan lainnya.

Penyebab Seseorang Mengalami Gangguan Kecemasan Sosial

Gangguan kecemasan sosial ini belum diketahui pasti apa penyebabnya. Kondisi ini bisa saja dipicu situas yang baru atau belum pernah dilakukan sebelumnya. Kondisi fobia sosial ini juga terkait pada beberapa faktor seperti:

  • Struktur Otak

Hal ini dikarenakan bagian otak untuk mengendalikan respon rasa takut (amigdala) terlalu aktif merespon rasa takut yang dialami.

  • Faktor Lingkungan

Penderita pernah mengalami intimidasi atau pelecehan dari orang lain, adanya kejadian yang membuat seseorang merasa dipermalukan di situasi sosial, orangtua yang terlalu mengontrol anak, hingga orang terdekat atau di lingkungan penderita memang terlalu pencemas.

  • Faktor Genetik

Gangguan kecemasan sosial ini bisa juga merupakan turunan dari keluarga. Anak yang pemalu juga cenderung akan lebih cemas secara sosial.

Ciri atau Gejala Seseorang Mengalami Gangguan Kecemasan Sosial

Individu yang mengalami fobia sosia ini biasanya menunjukkan gejala atau ciri-ciri. Berikut gejala-gejalanya:

  • Situasi-situasi sosial hampir selalu memicu rasa takut dan rasa cemas pada individu. Biasanya pada anak-anak, kecemasan ini diekspresikan dalam bentuk berupa tangisan, menciutkan bibir, tidak sanggup berbicara, atau bisa juga menggenggam erat orang yang dikenalnya pada situasi sosial tertentu.
  • Individu menyadari bahwa ketakutan yang dirasakannya berlebihan dan bahkan tidak masuk akan. Tentu saja pada anak-anak kriteria ini tidak atau belum bisa terlihat.
  • Seseorang merasa takut individu akan berperilaku atau memperlihatkan rasa kecemasannya yang mungkin saja dievaluasi secara negatif oleh orang lain.
  • Rasa kecemasan dan ketakutan yang jelas terhadap situasi sosial yang menempatkan seseorang di osisi yang bisa dikritik oleh orang lain. Kondisi ini pada anak-anak bisa terlihat ketika mereka bersama teman sebayanya.
  • Kecemasan ataupun rasa ketakutan tersebut dirasakan terus menerus selama enam bulan atau lebih
  • Rasa cemas, takut, dan penghindaran ini akan menyebabkan adanya gangguan pada berbagai aspek sosial kehidupan penderitanya seperti pekerjaan, kehidupan sehari-hari dan aspek-aspek lainnya
  • Pada konteks sosial budaya, ketakutran dan kecemasan itu tidak sesuai dengan ancaman nyata yang terjadi di situasi sosial
  • Rasa cemas dan ketakutan akibat gangguan kecemasan sosial ini tidak berhubungan dengan kondisi medis lainnya
  • Rasa takut dan kecemasan ini bukanlah merupakan efek dari zat-zat atau kondisi medis lainnya
  • Biasanya situasi-situasi sosial dihindari dengan kecemasan dan rasa takut yang intens
  • Rasa cemas, ketakutan, dan penghindaran tidak bisa dijelaskan oleh gejala dari gangguan mental lainnya.

Selain kriteria yang disebutkan di atas, ada juga gejala fisik yang terlihat pada penderitanya, seperti gemetaran, merasa mual atau mengalami gangguan perut, pipi memerah, detak jantung menjadi cepat, berkeringat, sulit bernapas, pusing, hingga pikiran menjadi kosong.

Gangguan kecemasan sosial ini memang tidak bisa dicegah. Jika mengalami gejala-gejala di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan mental. Dampak gangguan kecemasan juga bisa diturunkan dengan melakukan relaksasi, mencatat peristiwa penting yang membuat Anda merasa cemas di jurnal, dan mendiskusikannya dengan dokter.